Diusianya yang sudah 70 tahun, seharusnya dia sedang menikmati masa tuanya. Menggendong dan bermain dengan cucunya, menikmati keindahan Danau Poso di tepi rumahnya, sesekali berbicara dengan para anak muda di kampungnya tentang masa depan, atau sekedar menjaga dan merawat kesehatannya.
Dia, Ngkai Sagiagora, memilih lebih dari itu. Rambut putih dikepalanya tidak menuakan semangatnya. Ia bukan kritikus ulung, apalagi pejabat teras pada departemen khusus pemerintahan. Resimen warisan feodal sekalipun seperti Pamong Praja bahkan tak pernah berhasil menghalau kharismanya.
Meskipun berjalan agak pelan, seringkali tertatih, dengan agak membungkuk,dia tetap berjalan di depan, hampir selalu ada di setiap kesempatan. Cucu, anak-anaknya, keluarganya, semua anggota masyarakat, terutama kehidupan generasi adalah alasannya memilih berada di baris depan, terdepan, ketika warga Peura menyatakan penolakan terhadap tower SUTET PLTA Sulewana di wilayah pemukiman.
Dia, Ngkai Sagiagora, memilih lebih dari itu. Rambut putih dikepalanya tidak menuakan semangatnya. Ia bukan kritikus ulung, apalagi pejabat teras pada departemen khusus pemerintahan. Resimen warisan feodal sekalipun seperti Pamong Praja bahkan tak pernah berhasil menghalau kharismanya.
Meskipun berjalan agak pelan, seringkali tertatih, dengan agak membungkuk,dia tetap berjalan di depan, hampir selalu ada di setiap kesempatan. Cucu, anak-anaknya, keluarganya, semua anggota masyarakat, terutama kehidupan generasi adalah alasannya memilih berada di baris depan, terdepan, ketika warga Peura menyatakan penolakan terhadap tower SUTET PLTA Sulewana di wilayah pemukiman.
